Pagi ini hujan sangat deras mengguyur kota. Membasahi apapun tanpa pandang bulu. Jalan, taman, pohon-pohon, kendaraan di jalan, dan gedung-gedung semua basah kecuali orang-orang yang mengintip dibalik jendela atau pintu rumahnya sambil berkata. "Sial, pagi-pagi hujan....", atau "Ya Allah,,, kenapa hujan gede baget sih, kan mau berangkat kerja...". Ada-ada saja bentuk kekesalan manusia dan sedikit sekali yang bersyukur.
Namun, siapakah orang-orang yang bersyukur dengan ikhlas dengan datangnya hujan. Ialah petani, orang pertama yang sangat mengharapkan hujan turun ketika panas berkepanjangan. Berharap sawahnya dialiri air hujan yang membawa kesuburan sampai sawahnya menguning dan siap panen. Namun apa yang terjadi bila hujan turun sangat deras hingga menyebabkan banjir, kemudian ratusan hektar sawah gagal panen. Kembali sifat negatif manusia menjadi dominan. Mencaci maki, mengumpat, menganggap tuhan tidak adil.
Lalu siapakah orang-orang yang ikhlas dengan datangnya hujan. Apakah bocah-bocah yang menyewakan payung (ojek payung) kepada orang-orang dijalan. lalu bagaimana bila ia tidak mendapatkan orang yang menyewa payungnya. kembali mengumpat dan mencaci maki.
Seorang teman yang aku kenal dengan baik. Ia tersenyum memandangi hujan, entah apa yang dipikirkan. Ia hanya bilang hujannya sangat bagus. Apakah orang seperti ini yang bersyukur dengan datangnya hujan. Aku tidak tahu. Hanya Allah yang mengetahui isi hati setiap manusia. Tapi aku pernah mendengar temanku berkata. "Rahmat Allah turun pagi-pagi sekali, jadi bisa lari pagi". Mencari kenikmatan dibalik kesempitan yang luas.
Sabtu, 13 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar